Sunday, 8 August 2010

Mawar dan Cemara



Suatu hari di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara. Katanya, “Meskipun kamu tumbuh begitu tegap, tapi kamu tidak harum sehingga tidak bisa menarik kumbang dan lebah untuk mendekat.”

Pohon cemara diam saja. Kemudian, bunga mawar menceritakan keburukan pohon cemara dimana-mana. Akhirnya, pohon cemara menjadi tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.

Ketika musim dingin yang hebat datang, salju turun dengan lebatnya. Bunga mawar yang sombong itu, kesulitan mempertahankan kehidupannya. Demikian juga dengan pohon dan bunga-bunga lainnya. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri, di tengah badai salju dingin yang menerpa bumi.

Pada tengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan pohon cemara.

Kata salju, “Setiap tahun, saya datang ke muka bumi ini. Dan kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya. Kamu mampu berdiri tegak, dalam menahan segala macam tekanan alam.”


Share:

Ada peribahasa Timur yang berbunyi demikian: “Menabur debu dengan angin berlawanan”. Ada juga ungkapan begini: “Menengadah ke langit dan membuang ludah.” Semuanya mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang, hingga akhirnya mencelakakan dirinya sendiri.

Bunga mawar dalam cerita atas bersifat congkak, dan kepuasan yang didapatnya hanya bersifat sebentar. Sementara itu, pohon cemara berlapang dada, hatinya bagaikan langit besar tak bertepi saat menerima fitnah dan cela.

Mari, belajar dari si pohon cemara. Dia tegar saat “menahan serangan”, baik itu serangan berupa tindakan, ucapan, atau pikiran. Ia mampu menjadikannya sebagai sesuatu yang sejuk, hangat, dan damai.

Ingat, dengan keteguhan jiwa dan pikiran, kebahagiaan dapat kita raih. Caci maki dan fitnah sekalipun, tidak akan mampu menjatuhkan orang yang kuat.


8 Kebohongan Sang Ibu


Semua orang percaya bahwa kebohongan akan membawa seseorang terjerumus dalam penderitaan. Namun kisah ini melukiskan sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna yang sebenarnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata hati kita dan terbebas dari penderitaaan.


Berikut ini adalah true story yang mudah-mudahan memberikan hikmah.

Cerita ini bermula ketika saya masih kecil, saya terlahir sebagai seorang anak laki laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, sering kali kami kekurangan.

Ketika makan, Ibu sering memberikan porsi nasinya untukku, sambil memindahkan nasi ke dalam mangkukku, Ibu berkata, “Makanlah, nak. Ibu tidak lapar.” (Kebohongan ibu yang pertama).

Saat saya mulai tumbuh dewasa, Ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah kami. Ibu berharap dari ikan hasil pancingannya, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan anak yang sangat disayanginya.

Sepulang dari memancing, Ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu saya memakan sup ikan tersebut, Ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang, yang merupakan sisa dari tulang ikan yang kumakan.

Melihat Ibu seperti itu, saya terharu dan menggunakan sendokku untuk memberikan daging ikan kepada Ibu. Tetapi Ibu dengan cepat menolaknya, Ia berkata, “Makanlah, nak. Ibu tak suka makan ikan” (Kebohongan Ibu yang kedua).

Ketika saya duduk di bangku SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakak saya, Ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel. Hasil tempelan membuahkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.

Di kala musim dingin tiba, saya bangun dari tempat tidurku. Melihat Ibu masih bertumpu pada lilin kecil dengan gigih melanjutkan pekerjaan menempel kotak korek api.

Saya berkata, “Ibu, tidurlah. Sudah malam dan besok pagi Ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata, “Cepatlah tidur, nak, Ibu tidak lelah.” (Kebohongan Ibu yang ketiga).

Ketika ujian tiba, Ibu meminta cuti bekerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Saat hari sudah siang, Ibu yang tegar menunggu saya di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu segera menyambutku dan menuangkan teh yang telah disiapkan dalam botol yang dingin untukku.

Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang Ibu yang jauh lebih kental.Melihat keringat membasahi sekujur tubuh Ibu, saya segera memberikan gelasku untuk Ibu dan menyuruhnya minum. Ibu berkata, “Minumlah, nak. Ibu tidak haus.” (Kebohongan Ibu yang keeempat).

Setelah kepergian ayah tercinta karena sakit, Ibu yang malang harus berperan sebagai seorang ayah juga. Beban yang harus dipikul Ibu semakin berat. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, Ibu harus dapat membiayai hidup keluarga. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga kami yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati, yang tingggal dekat rumah kami.

Ia membantu Ibu dalam mengatasi masalah kecil maupun besar. Tetangga yang melihat kehidupan kami yang begitu sengsara, menganjurkan agar Ibuku menikah lagi. Namun Ibu yang keras kepala tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata, “ Saya tak butuh cinta.” (Kebohongan Ibu yang kelima).

Setelah kami semua tamat sekolah dan bekerja, Ibu yang sudah tua telah pensiun. Tetapi Ibu tidak mau. Ia rela pergi ke pasar setiap pagi untuk berjualan sedikit sayur, memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakak dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup Ibu. Tetapi Ibu bersikukuh tidak mau menerima pemberian tersebut. Ibu berkata, “Saya punya uang.” (Kebohongan Ibu yang keenam).

Setelah lulus dari S1, saya melanjutkan ke S2 dan memperoleh gelar master di universitas ternama di Amerika berkat beasiswa dari suatu perusahaan. Akhirnya saya bekerja di perusahaan tersebut dengan gaji yang lumayan tinggi. Saya bermaksud membawa Ibu untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi Ibu yang baik hati tidak mau merepotkan anaknya. Ia berkata padaku, “ Ibu tidak terbiasa.” (Kebohongan Ibu yang ketujuh).

Setelah memasuki usia tua, Ibu terkena penyakit kanker lambung dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yang berada jauh di seberang samudra atlantik segera pulang dan menjenguk Ibunda tercinta. Saya melihat Ibu tua yang terbaring lemah di ranjangnya. Senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.

Terlihat dengan jelas betapa sakit itu menjamahi tubuh Ibuku sehingga ia kelihatan lemah dan kurus kering. Dengan air mata yang berlinang kutatapi Ibuku. Hati ini tersa perih sakit sekali melihat Ibu yang kusayangi dalam kondisi seperti ini. Tetapi Ibu dengan tegar berkata, “Jangan menangis anakku, Ibu tidak sakit.” (Kebohongan Ibu yang kedelapan). Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, Ibu menutup mata untuk selamanya.


Share :

Kisah ini membuat kita tersentuh dan hendak mengucapakan “Terima Kasih, Ibu” Tetapi, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon orang tua kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang bincang dengan orang tua kita? Di tengah tengah aktifitas kita yang padat, kita selalu memiliki beribu alasan untuk meninggalkan orang tua kita yang kesepian.

Kita selalu melupakan ayah dan ibu yang berada di rumah. Pada umumnya kita lebih memperdulikan kekasih, suami/istri kita. Kita selalu ingin mengetahui kabar dari pasangan hidup kita.

Mencemaskan apakah dia sudah makan, apakah dia bahagia berada di sisi kita dsb. Namun apakah kita pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Berusaha menciptakan kebahagiaan dalam sisa sisa hidup mereka? Pada saat kita masih berkesempatan membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Percayalah! Kelak kita tak akan menyesalinya.