adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
Thursday, 12 August 2010
Do You Know?
Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya,
Wednesday, 11 August 2010
Roses
Bunga mawar merupakan sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai pokok hiasan. Tumbuhan berbunga mula muncul pada zaman cretaceous. Konon, pokok berbunga pertama adalah angiosperm. Bunga mawar adalah satu bunga asing bagi bangsa Melayu dan merupakan satu kebudayaan asing yang baru meninggalkan jejak sejarahnya sendiri di dunia Melayu. Bunga ini mempunyai keharuman yang lemah dan tidak sekuat bunga tempatan. Bisa jadi, ini membuat bunga mawar tak mendapat banyak saingan. Dalam kebudayaan barat, dan kini dalam kebudayaan Melayu, bunga mawar melambangkan bunga cinta.
Selama ini mawar diperlambangkan wanita yang cantik dan mempesono, memiliki duri untuk melindungi dirinya dan akan layu setelah berkembang. Namun asumsi demikian hanya untuk sebagian yang memandangnya sebelah mata.
Mawar sebenarnya bukan tanaman tropis. bunga ini berasal dari belahan bumi utara dengan empat musim. Di habitat aslinya, mereka beristirahat pada musim dingin dengan merontokkan seluruh daunnya. Nah, karena di indonesia tidak ada musim gugur, tanaman harus dipotong setiap empat bulan supaya bunga bisa keluar banyak dan bersamaan. Kalau tidak, hasilnya ada yang berbunga ada yang tidak.
Sebenarnya bunga mawar merupakan suatu perlambangan maskulin. Mayoritas masyarakat selama ini salah meletakkan perlambangan suatu bunga/mawar pada tempat yang seharusnya bunga itu memperlambangkannya. Bunga Mawar telah diperlambangkan sebagai bentuk perlambangan seorang wanita/feminisme. Padahal sesungguhnya mawar itu telah menduduki perlambangan bentuk maskulin.
Kata mawar, Jika dilihat dari etimologinya, berasal dari kata wardah, yang artinya dalam bahasa Indonesia yaitu mawar; MA-WAR (wardah=mawar). Pengertian mawar sendiri menjadikan bunga ini memiliki misteri yang menggambarkan kesatrian. Arti satria bukanlah sebuah kemenangan dari suatu perlawanan. Tapi, yang disebut satria ialah perjuangan yang tak henti-hentinya. Maka, seseorang yang melakoni kehidupan dengan mematuhi prinsip-prinsipnya, yakni seorang satria yang gagah berani.
Sunday, 8 August 2010
Mawar dan Cemara
Suatu hari di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara. Katanya, “Meskipun kamu tumbuh begitu tegap, tapi kamu tidak harum sehingga tidak bisa menarik kumbang dan lebah untuk mendekat.”
Pohon cemara diam saja. Kemudian, bunga mawar menceritakan keburukan pohon cemara dimana-mana. Akhirnya, pohon cemara menjadi tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.
Ketika musim dingin yang hebat datang, salju turun dengan lebatnya. Bunga mawar yang sombong itu, kesulitan mempertahankan kehidupannya. Demikian juga dengan pohon dan bunga-bunga lainnya. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri, di tengah badai salju dingin yang menerpa bumi.
Pada tengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan pohon cemara.
Kata salju, “Setiap tahun, saya datang ke muka bumi ini. Dan kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya. Kamu mampu berdiri tegak, dalam menahan segala macam tekanan alam.”
Kata salju, “Setiap tahun, saya datang ke muka bumi ini. Dan kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya. Kamu mampu berdiri tegak, dalam menahan segala macam tekanan alam.”
Share:
Ada peribahasa Timur yang berbunyi demikian: “Menabur debu dengan angin berlawanan”. Ada juga ungkapan begini: “Menengadah ke langit dan membuang ludah.” Semuanya mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang, hingga akhirnya mencelakakan dirinya sendiri.
Bunga mawar dalam cerita atas bersifat congkak, dan kepuasan yang didapatnya hanya bersifat sebentar. Sementara itu, pohon cemara berlapang dada, hatinya bagaikan langit besar tak bertepi saat menerima fitnah dan cela.
Mari, belajar dari si pohon cemara. Dia tegar saat “menahan serangan”, baik itu serangan berupa tindakan, ucapan, atau pikiran. Ia mampu menjadikannya sebagai sesuatu yang sejuk, hangat, dan damai.
Ingat, dengan keteguhan jiwa dan pikiran, kebahagiaan dapat kita raih. Caci maki dan fitnah sekalipun, tidak akan mampu menjatuhkan orang yang kuat.
8 Kebohongan Sang Ibu
Semua orang percaya bahwa kebohongan akan membawa seseorang terjerumus dalam penderitaan. Namun kisah ini melukiskan sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna yang sebenarnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata hati kita dan terbebas dari penderitaaan.
Berikut ini adalah true story yang mudah-mudahan memberikan hikmah.
Berikut ini adalah true story yang mudah-mudahan memberikan hikmah.
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil, saya terlahir sebagai seorang anak laki laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, sering kali kami kekurangan.
Ketika makan, Ibu sering memberikan porsi nasinya untukku, sambil memindahkan nasi ke dalam mangkukku, Ibu berkata, “Makanlah, nak. Ibu tidak lapar.” (Kebohongan ibu yang pertama).
Saat saya mulai tumbuh dewasa, Ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah kami. Ibu berharap dari ikan hasil pancingannya, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan anak yang sangat disayanginya.
Sepulang dari memancing, Ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu saya memakan sup ikan tersebut, Ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang, yang merupakan sisa dari tulang ikan yang kumakan.
Melihat Ibu seperti itu, saya terharu dan menggunakan sendokku untuk memberikan daging ikan kepada Ibu. Tetapi Ibu dengan cepat menolaknya, Ia berkata, “Makanlah, nak. Ibu tak suka makan ikan” (Kebohongan Ibu yang kedua).
Ketika saya duduk di bangku SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakak saya, Ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel. Hasil tempelan membuahkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.
Di kala musim dingin tiba, saya bangun dari tempat tidurku. Melihat Ibu masih bertumpu pada lilin kecil dengan gigih melanjutkan pekerjaan menempel kotak korek api.
Saya berkata, “Ibu, tidurlah. Sudah malam dan besok pagi Ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata, “Cepatlah tidur, nak, Ibu tidak lelah.” (Kebohongan Ibu yang ketiga).
Ketika ujian tiba, Ibu meminta cuti bekerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Saat hari sudah siang, Ibu yang tegar menunggu saya di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu segera menyambutku dan menuangkan teh yang telah disiapkan dalam botol yang dingin untukku.
Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang Ibu yang jauh lebih kental.Melihat keringat membasahi sekujur tubuh Ibu, saya segera memberikan gelasku untuk Ibu dan menyuruhnya minum. Ibu berkata, “Minumlah, nak. Ibu tidak haus.” (Kebohongan Ibu yang keeempat).
Setelah kepergian ayah tercinta karena sakit, Ibu yang malang harus berperan sebagai seorang ayah juga. Beban yang harus dipikul Ibu semakin berat. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, Ibu harus dapat membiayai hidup keluarga. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga kami yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati, yang tingggal dekat rumah kami.
Ia membantu Ibu dalam mengatasi masalah kecil maupun besar. Tetangga yang melihat kehidupan kami yang begitu sengsara, menganjurkan agar Ibuku menikah lagi. Namun Ibu yang keras kepala tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata, “ Saya tak butuh cinta.” (Kebohongan Ibu yang kelima).
Setelah kami semua tamat sekolah dan bekerja, Ibu yang sudah tua telah pensiun. Tetapi Ibu tidak mau. Ia rela pergi ke pasar setiap pagi untuk berjualan sedikit sayur, memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakak dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup Ibu. Tetapi Ibu bersikukuh tidak mau menerima pemberian tersebut. Ibu berkata, “Saya punya uang.” (Kebohongan Ibu yang keenam).
Setelah lulus dari S1, saya melanjutkan ke S2 dan memperoleh gelar master di universitas ternama di Amerika berkat beasiswa dari suatu perusahaan. Akhirnya saya bekerja di perusahaan tersebut dengan gaji yang lumayan tinggi. Saya bermaksud membawa Ibu untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi Ibu yang baik hati tidak mau merepotkan anaknya. Ia berkata padaku, “ Ibu tidak terbiasa.” (Kebohongan Ibu yang ketujuh).
Setelah memasuki usia tua, Ibu terkena penyakit kanker lambung dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yang berada jauh di seberang samudra atlantik segera pulang dan menjenguk Ibunda tercinta. Saya melihat Ibu tua yang terbaring lemah di ranjangnya. Senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa sakit itu menjamahi tubuh Ibuku sehingga ia kelihatan lemah dan kurus kering. Dengan air mata yang berlinang kutatapi Ibuku. Hati ini tersa perih sakit sekali melihat Ibu yang kusayangi dalam kondisi seperti ini. Tetapi Ibu dengan tegar berkata, “Jangan menangis anakku, Ibu tidak sakit.” (Kebohongan Ibu yang kedelapan). Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, Ibu menutup mata untuk selamanya.
Share :
Kisah ini membuat kita tersentuh dan hendak mengucapakan “Terima Kasih, Ibu” Tetapi, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon orang tua kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang bincang dengan orang tua kita? Di tengah tengah aktifitas kita yang padat, kita selalu memiliki beribu alasan untuk meninggalkan orang tua kita yang kesepian.
Kita selalu melupakan ayah dan ibu yang berada di rumah. Pada umumnya kita lebih memperdulikan kekasih, suami/istri kita. Kita selalu ingin mengetahui kabar dari pasangan hidup kita.
Mencemaskan apakah dia sudah makan, apakah dia bahagia berada di sisi kita dsb. Namun apakah kita pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Berusaha menciptakan kebahagiaan dalam sisa sisa hidup mereka? Pada saat kita masih berkesempatan membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Percayalah! Kelak kita tak akan menyesalinya.
Saturday, 7 August 2010
See More Into
Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.
Sang majikan memberikan sebuah alat pemotong dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!"
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir penebang pohon itu.
Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. "Kapan saat terakhir kau mengasah alat ini?" sang majikan bertanya.
"Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah alat ini. Saya sangat sibuk menebang pohon," katanya.
Share :
Share :
Kehidupan kita sama seperti demikian. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka tidak lebih berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?
Tidak ada yang salah dengan bekerja keras. Tetapi tidak seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti menyediakan waktu untuk keluarga, membaca buku, refreshing dan lain sebagainya.
Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah, kita akan tumpul dan kehilangan kreatifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.
Terpenting untuk kita adalah sebagai seorang anak. Hendaknya kita lebih peka terhadap keluarga. Apa yang mereka rasakan, keresahan, kesepian dan kecemasan mereka selama di rumah. Bukan hal yang bersifat kebendaan saja yang kita suguhkan setiap berkalanya dan itu kita anggap satu-satunya hal yang paling membahagiakan mereka. Tapi akan lebih bermakna dan lebh lengkap, jika ada secercah kasih sayang sepenuh hati yang dapat kita berikan untuk mereka.
Friday, 6 August 2010
Indulgent
Long ago, there lived a famous wise teacher. On one morning, there came a young man with tangled hair limp and steps. The young man was dogged by problems seem. Without wasting time, he expressed his confusion: failed dreams, career, and life never end happily.
The teacher listened carefully and thoroughly. He then took a handful of salt and asked her guests to get a glass of water. He sprinkle salt into the glass, then he beat with a spoon.
"Try drinking this, and tell me how it feels?" The teacher begged.
"Salty and bitter, very bitter," He replied, as he spat on the ground.
"Salty and bitter, very bitter," He replied, as he spat on the ground.
The teacher just smiled. He then invited his guest walked to the edge of the pond in the woods near his residence. The two men walked hand in hand in the residence. They came to the edge of a serene lake. Teacher then sprinkled a handful of salt into the lake. With a chip, he stirred lake water, making waves and small ripples.
After lake water is calm, he said, "Look, take the water from this lake water, and drink."
After lake water is calm, he said, "Look, take the water from this lake water, and drink."
As guests sipped lake water was finished, the teacher asked, "How does it feel?"
"Fresh," replied the boy.
"Do you still feel the salt in the water?" asked the teacher.
"No," replied the young man.
The teacher patted the young man. He then took her kneeling on the edge of the pond.
"Young man, listen. Bitterness of life is like a handful of salt. Number and it is the same bitter taste, and it will remain that same. But, we tasted that bitterness will greatly depend on the container or where you are taking. Bitterness always comes from how we do put everything. It all depends on our hearts. So when you feel bitterness or failure in life, there's only one thing you can do: Expand your chest to receive everything. Expand your heart to hold any bitterness. Expand the way outlook on life. You will learn a lot from the vastness of it. "
"Young man, listen. Bitterness of life is like a handful of salt. Number and it is the same bitter taste, and it will remain that same. But, we tasted that bitterness will greatly depend on the container or where you are taking. Bitterness always comes from how we do put everything. It all depends on our hearts. So when you feel bitterness or failure in life, there's only one thing you can do: Expand your chest to receive everything. Expand your heart to hold any bitterness. Expand the way outlook on life. You will learn a lot from the vastness of it. "
"Your heart, my son, is the container. Your mind is where you collect everything. So, do not make your heart likes glass, make your heart lake area that is able to reduce any bitterness. Heart is as wide as the world!’’
Both were headed home. The teacher still had "a handful of salt" to other people, who often came to him bringing unrest in the heart.
Subscribe to:
Comments (Atom)



















